Tata Cara Shalat Nabi SAW (Bagian 14) – Peringatan Dalam Shalat

peringatandalamshalat
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السَّلَامَ قَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَرَجَعَ الرَّجُلُ فَصَلَّى كَمَا كَانَ صَلَّى ثُمَّ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْكَ السَّلَامُ ثُمَّ قَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ حَتَّى فَعَلَ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ الرَّجُلُ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا أُحْسِنُ غَيْرَ هَذَا عَلِّمْنِي قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw. memasuki sebuah masjid, lalu seorang laki-laki masuk, lalu shalat, kemudian dia datang, lalu mengucapkan salam kepada Rasulullah Saw. maka Rasulullah Saw. membalas salamnya seraya berkata, ‘Kembalilah, lalu shalatlah, karena kamu belum shalat. Lalu laki-laki tersebut kembali, lalu shalat sebagaimana sebelumnya dia shalat, kemudian mendatangi Nabi Saw. seraya mengucapkan salam kepada beliau. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Semoga keselamatan terlimpahkan kepadamu’ kemudian beliau bersabda lagi, ‘Kembalilah dan shalatlah lagi, karena kamu belum shalat’, hingga dia melakukan hal tersebut tiga kali. Lalu laki-laki tersebut berkata, ‘Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak dapat melakukan yang lebih baik selain daripada ini, ajarkanlah kepadaku.’ Beliau bersabda, ‘Apabila kamu mendirikan shalat, maka bertakbirlah, kemudian bacalah sesuatu yang mudah dari al-Qur’an, kemudian ruku’lah hingga bertuma’ninah dalam keadaan ruku’. Kemudian angkatlah (kepalamu dari ruku’) hingga lurus berdiri, kemudian sujudlah hingga bertuma’ninah dalam keadaan sujud, kemudian angkatlah hingga bertuma’ninah dalam duduk, kemudian lakukan hal tersebut dalam shalatmu semuanya’.”

(HR. Bukhari)


 عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ شِبْلٍ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ ثَلَاثٍ عَنْ نَقْرَةِ الْغُرَابِ وَعَنْ افْتِرَاشِ السَّبُعِ وَأَنْ يُوَطِّنَ الرَّجُلُ الْمُقَامَ قَالَ عُثْمَانُ فِي الْمَسْجِدِ كَمَا يُوَطِّنُ الْبَعِيرُ

Dari Abdurrahman bin Syibl Rasulullah Saw, melarang tiga hal: mematuk (ketika bersujud) seperti burung gagak, membentangkan tangan seperti binatang buas (dalam bersujud) dan mengambil tempat duduk. Utsman berkata; maksudnya dalam masjidnya seperti unta yang mengambil tempat duduknya.

(HR. Ahmad)

Tata Cara Shalat Nabi SAW (Bagian 13) – Kaifiyyah Tasyahud

kaifiyyahtasyahud
عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا أَنْتَ قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَكَبِّرْ اللَّهَ تَعَالَى ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ عَلَيْكَ مِنْ الْقُرْآنِ وَقَالَ فِيهِ فَإِذَا جَلَسْتَ فِي وَسَطِ الصَّلَاةِ فَاطْمَئِنَّ وَافْتَرِشْ فَخِذَكَ الْيُسْرَى ثُمَّ تَشَهَّدْ

Dari Rifa’ah bin Rafi’ dari Nabi Saw. bersabda: “Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, bertakbirlah kepada Allah Ta’ala, kemudian bacalah Al Qur’an yang mudah bagimu.” -dalam hadits tersebut beliau juga bersabda- Apabila kamu duduk di tengah mengerjakan shalat, maka tenangkanlah dirimu dan duduklah di atas paha kirimu, kemudian bacalah tasyahud.

(HR. Abu Dawud)


 عَنْ ابْنِ عُمَرَأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا جَلَسَ فِي الصَّلَاةِ وَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ وَرَفَعَ إِصْبَعَهُ الْيُمْنَى الَّتِي تَلِي الْإِبْهَامَ فَدَعَا بِهَا وَيَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى بَاسِطَهَا عَلَيْهَا

Dari Ibn Umar, bahwa apabila Nabi Saw. duduk dalam shalat, beliau meletakkan kedua tangannya diatas kedua lututnya, dan beliau angkat jari telunjuknya kemudian berdoa dengannya, sementara tangan kirinya diatas paha kirinya sambil dihamparkan diatasnya.

(HR. Muslim, Ahmad dan Nasa’i).


 عَن ْوَائِلَ بْنَ حُجْرٍ في صَلأَةِ النَّبي : ثُمَّ قَعَدَ فَافْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى فَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ وَرُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَجَعَلَ حَدَّ مِرْفَقِهِ الْأَيْمَنِ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى ثُمَّ قَبَضَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ فَحَلَّقَ حَلْقَةً ثُمَّ رَفَعَ إِصْبَعَهُ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُو بِهَا
Dari Wa’il bin Hujr tentang shalat Nabi Kemudian beliau duduk dan menyilangkan tangan kirinya dan meletakkan telapak tangan kirinya diatas pahanya dan luut kirinya, dan beliau meletakkan ujung sikut kanannya diatas paha kanannya kemudian beliau menggenggam antara jari-jarinya dan beliau jadikan melingkar, kemudian beliau angkat jari telunjuknya dan kulihat beliau menggerak-gerakkannya sambil berdoa dengannya.

(HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Tata Cara Shalat Nabi SAW (Bagian 12) – Takbir Untuk Ruku, Sujud dan Bangkitnya

sujuddalamshalat
عَنْ عَبْدِ بن مَسْعُوْدٍ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكَبِّرُ فِي كُلِّ رَفْعٍ وَخَفْضٍ وَقِيَامٍ وَقُعُوْدٍ.

Dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Nabi Saw. bertakbir di setiap bangkit,merunduk,berdiri dan duduk”.

(HR. Ahmad)


RUKU’

قال َعُقْبَةُ بْنُ عَمْرٍو أَلَا أُرِيكُمْ صَلَاةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَقَامَ وَكَبَّرَ ثُمَّ رَكَعَ وَجَافَى يَدَيْهِ وَوَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ وَفَرَّجَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ مِنْ وَرَاءِ رُكْبَتَيْهِ حَتَّى اسْتَقَرَّ كُلُّ شَيْءٍ مِنْهُه

Uqbah bin ‘Amr berkata; “Maukah saya berikan contoh shalat Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam kepada kalian?” Ia berkata; “Lalu dia bertakbir, ruku’, meletakkan kedua telapak tangannya pada lututnya dengan membuka jarinya dari belakang lututnya sehingga semua telah menetap pada tempatnya.

(HR. Ahmad)


I’TIDAL KETIKA BANGKIT DARI RUKU’

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى صَلَاةِ رَجُلٍ لَا يُقِيمُ صُلْبَهُ بَيْنَ رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ
Dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Saw. bersabda: “Allah tidak akan melihat (menerima) shalat seseorang yang tidak menegakkan tulang punggungnya di antara ruku’ dan sujudnya.”

(HR. Ahmad)


CARA SUJUD

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَجَدَ وَضَعَ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ وَإِذَا نَهَضَ رَفَعَ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ

(1) Dari Wa’il bin Hujr dia berkata; “Aku melihat Rasulullah Saw. meletakan lututnya terlebih dahulu sebelum kedua tangannya apabila hendak sujud, dan mengangkat kedua tangannya dahulu sebelum kedua lututnya apabila bangkit dari sujud.”

(HR. Nasa’i)

عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَجَدْتَ فَضَعْ كَفَّيْكَ وَارْفَعْ مِرْفَقَيْكَ

(2) Dari al-Bara’ berkata: Rasulullah Saw. Bersabda: “Apabila kalian sujud maka letakkanlah kedua telapak tanganmu dan angakatlah kedua sikumu.”

(HR. Muslim)

 عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا رَكَعَ أَحَدُكُمْ فَقَالَ فِي رُكُوعِهِ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَقَدْ تَمَّ رُكُوعُهُ وَذَلِكَ أَدْنَاهُ وَإِذَا سَجَدَ فَقَالَ فِي سُجُودِهِ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَقَدْ تَمَّ سُجُودُهُ وَذَلِكَ أَدْنَاهُ

(3) Dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi Saw. bersabda: “Jika salah seorang dari kalian rukuk lalu mengucapkan dalam rukuknya; Subhaana Rabbial Azhiim (Maha Suci Tuhanku yang Maha Agung) tiga kali maka rukuknya telah sempurna. Dan itu adalah yang minimal. Kemudian ketika sujud mengucapkan; Subhaana Rabbial A’la (Maha Suci Tuhanku yang Maha Tinggi) tiga kali maka rukuknya telah sempurna. Dan itu adalah yang minimal.”

(HR. Muslim, Ahmad dan Tirmidzi)

Tata Cara Shalat Nabi SAW (Bagian 11) – Membaca Surat atau Ayat-Ayat Dalam Shalat


عَنْ أبِي قَتَادَةَ ِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ فِي الْأُولَيَيْنِ بِأُمِّ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ وَفِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُخْرَيَيْنِ بِأُمِّ الْكِتَابِ
Dari Abu Qatadah, bahwa Nabi Saw. dalam shalat Zhuhur membaca Al Fathihah dan dua surah pada dua rakaat pertama. Dan pada dua rakaat akhir membaca Al Fatihah.

(Mutaffaq ‘Alaih)

Tata Cara Shalat Nabi SAW (Bagian 10) – Membaca Basmallah

membacabasmallah

 عَنْ نُعَيْمٍ الْمُجْمِرِ قَالَ: صَلَّيْتُ وَرَاءَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَرَأَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ثُمَّ قَرَأَ بِأُمِّ الْقُرْآنِ

Dari Nu’aim Al Mujmir dia berkata; “Aku pernah shalat di belakang Abu Hurairah kemudian dia membaca “Bismillaahirrahmaanirrahiim, lalu membaca surat Al Fatihah”.

(HR. An-Nasa’i)


 عَنْ قَتَادَةَ قَالَ سُئِلَ أَنَسٌ كَيْفَ كَانَتْ قِرَاءَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كَانَتْ مَدًّا ثُمَّ قَرَأَ “بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ” يَمُدُّ بِبِسْمِ اللَّهِ وَيَمُدُّ بِالرَّحْمَنِ وَيَمُدُّ بِالرَّحِيمِ

Dari Qatadah ia berkata; Anas pernah ditanya, “Bagaimanakah bacaan Nabi Saw?” Ia pun menjawab, “Bacaan beliau adalah panjang.” Lalu beliau pun membaca: “Bismillaahirrahmaanirrahiim.” memanjangkan bacaan, ‘Bismillah’ dan juga memanjangkan bacaan, ‘Arrahmaan’ serta bacaan, ‘Arrahiim.”

(HR. Bukhari)

Tata Cara Shalat Nabi SAW (Bagian 9) – Membaca Al-Fatihah dan Amin

membacaalfatihah
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

Dari Ubadah bin ash-Shamit Sesungguhnya Nabi Saw: “Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca al-Fatihah.” (HR. Muslim)


Membaca Amin

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا تَلَا”غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ” قَالَ آمِينَ حَتَّى يَسْمَعَ مَنْ يَلِيهِ مِنْ الصَّفِّ الْأَوَّلِ

Dari Abu Hurairah dia berkata; “Apabila Rasulullah Saw. membaca “Ghairil maghdluubi ‘alaihim waladl dlaallin”, beliau mengucapkan; “Amin” sehingga orang yang berada di belakang beliau di shaf pertama mendengar ucapan beliau.”

(HR. Abu Dawud)


 عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ “غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ”فَقَالَ آمِينَ وَمَدَّ بِهَا صَوْتَهُ

Dari Wa`il bin Hujr ia berkata; “Aku mendengar Nabi Saw. membaca: “Ghairil maghdluubi ‘alaihim waladl dlaallin, beliau lalu mengucapkan: “Aamiin dengan memanjangkan suaranya.”

(HR. Tirmidzi)


 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا أَمَّنَ الْإِمَامُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Abu Hurairah: dari Nabi Saw bersabda: “Jika imam mengucapkan Aamiin maka ucapkanlah Aamiin, sebab barangsiapa ucapan Aamiin nya bertepatan dengan bacaan Aamiin nya malaikat, pasti dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”

(HR. Bukhari)