Kencing Dibalik Teman atau Dinding

kencingdibaliktemanataudinding
Kencing Dibalik Teman atau Berlindung Dibalik Dinding
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ: “رَأَيْتُنِي أَنَا وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَتَمَاشَى فَأَتَى سُبَاطَةَ قَوْمٍ خَلْفَ حَائِطٍ فَقَامَ كَمَا يَقُومُ أَحَدُكُمْ فَبَالَ فَانْتَبَذْتُ مِنْهُ فَأَشَارَ إِلَيَّ فَجِئْتُهُ فَقُمْتُ عِنْدَ عَقِبِهِ حَتَّى فَرَغَ”.

Telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin Abu Syaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Abu Wa’il dari Hudzaifah berkata, “Aku berjalan-jalan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau lalu mendatangi tempat pembuangan sampah suatu kaum di balik tembok dan kencing sambil berdiri sebagaimana kalian berdiri. Aku lalu menjauh dari beliau, namun beliau memberi isyarat kepadaku agar mendekat, maka aku pun mendekat dan berdiri di belakangnya hingga beliau selesai.” .”

(Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari bissyarhi Shahih Al-Bukhari, Jilid I, hadits no.199. Kaira: Penerbit Darul Hadits, 2004. Hal. 389)


FAIDAH HADITS

  • Sikap pengertian pada guru adalah tandanya orang faham
  • Seorang guru mesti membiasakan sikap yang menimbulkan pengertian murid ( jangan jadi orang misterius
  • Hendaklah sesama kita saling menjaga dan memperhatikan
  • Nabi Muhammad diutus untuk meringankan ummat bukan untuk menyulitkan, oleh sebab itu janganlah berlaku keras karena akan menyulitkan
  • Ketika tidak bisa berucap hendaklah berisyarat supaya jelas
  • Apabila ada dua kemaslahatan maka ambillah yang lebih besar tapi apabila ada dua kemafsadatan maka ambillah yang paling ringan
  • Orang yang selalu bersikap teliti akan terjauh dari hal-hal yang tidak diinginkan
Advertisements

Wudlu Karena Ngantuk

wudhukarenangantuk
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ يُصَلِّي فَلْيَرْقُدْ حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا صَلَّى وَهُوَ نَاعِسٌ لَا يَدْرِي لَعَلَّهُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبُّ نَفْسَهُ.
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Hisyam bin ‘Urwah dari Bapaknya dari ‘Aisyah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian mengantuk saat shalat hendaklah ia tidur hingga hilang kantuknya, karena bila shalat dalam keadaan mengantuk ia tidak menyadari, mungkin ia bermaksud beristighfar padahal bisa jadi ia mencaci dirinya.”

حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ فَلْيَنَمْ حَتَّى يَعْلَمَ مَا يَقْرَأُ.

Telah menceritakan kepada kami Abu Ma ‘mar berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Warits telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Abu Qilabah dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jika salah seorang dari kalian mengantuk saat shalat, hendaklah tidur (dahulu) hingga ia mengetahui apa yang ia baca.”

(Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari bissyarhi Shahih Al-Bukhari, Jilid I, hadits no.199. Kaira: Penerbit Darul Hadits, 2004. Hal. 374)


FAIDAH HADITS

  • Jika ada salah seorang mengantuk saat shalat, maka hendaklah dia tidur terlebih dahulu, kemudian setelah selesai tidur, hendaklah dia melanjutkan kembali shalat yang sebelumnya, dengan melanjutkan raka’at sebelumnya, apabila dia yakin bahwa dia belum batal wudlunya.
  • Orang disebut ngantuk jika panca ideranya sadar mendengar perkataan temannya, tetapi dia tidak memahami perkataannya, selebihnya dari itu, maka dinamakan tertidur.
  • Tanda orang tertidur adalah jika dia mengalami mimpi baik sebentar atau lama.
  • Secara dzat dan hukum, ngantuk itu adalah tidur, dan ada pula yang menyatakan bahwa ngantuk dekat kepada tidur.
  • Tidak wajib atas orang yang tidur sampai terlelap
  • Padanya terdapat ikhtiyath (kehati-hatian) dalam ibadah terhadap sesuatu yang kemungkinan terjadi dalam shalat. Seperti orang yang tertidur dalam shalat, lalu dia mengigau memaki dirinya sendiri dikhawatirkan itu terjadi ketika waktu diijabah doa, maka lebih baik baginya agar tidur terlebih dahulu, sampai ngantuknya hilang.
  • Terdapat anjuran agar senantiasa khusyu dan menghadirkan hati dalam ibadah, serta menjauhi diri dari segala hal yang dibenci ketika melakukan keta’atan.
  • Terdapat anjuran berdoa, tanpa ada batasan yang ditentukan.
  • Pekerjaan (Amal) yang lebih Allah cintai adalah amal yang dilakukan secara kontinyu (dawam).
  • Orang yang mengantuk dianjurkan tidur terlebih dahulu, sampai dia benar-benar faham dengan apa yang dia baca.
  • Anjuran agar senantiasa memahami dan mengerti apa yang dia baca dalam shalat dan doanya.
  • Anjuran agar senantiasa mencari ilmu.

Teringat Junub di Masjid

teringatjunubdimesjid
Jika Seseorang Berada Di Masjid Dan Teringat Bahwa Dia Sedang Junub, Maka Dia Keluar Sebagaimana Mestinya Dan Tidak Tayammum
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ قَالَ أَخْبَرَنَا يُونُسُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ “أُقِيمَتْ الصَّلاَةُ وَعُدِّلَتْ الصُّفُوفُ قِيَامًا فَخَرَجَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا قَامَ فِي مُصَلاَهُ ذَكَرَ أَنَّهُ جُنُبٌ فَقَالَ لَنَا “مَكَانَكُمْ” ثُمَّ رَجَعَ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَيْنَا وَرَأْسُهُ يَقْطُرُ فَكَبَّرَ فَصَلَّيْنَا مَعَهُ”
تَابَعَهُ عَبْدُ الأَعْلَى عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ وَرَوَاهُ الأَوْزَاعِيُّ عَنْ الزُّهْرِيِّ
[الحديث275-طرفاه في: 640,639]

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin ‘Umar berkata, telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhry dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata,: “Qamat untuk shalat telah dikumandangkan dan shaf telah diluruskan, lalu keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah sampai di tempat shalat Beliau baru teringat bahwa Beliau sedang junub, lalu berkata, kepada kami; “tetaplah di tempat kalian”. Maka Beliau kembali lalu mandi. Kemudian datang dalam keadaan kapalanya basah. Lalu Beliau bertakbir, maka kamipun shalat bersamanya”. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abdul A’laa dari Ma’mar dari Az Zuhry dan diriwayatkan juga oleh Al Auza’i dari Az Zuhry.

(Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari bissyarhi Shahih Al-Bukhari, Jilid I, hadits no.199. Kaira: Penerbit Darul Bayan Al-Arabi, 2007. Hal. 456)


FIQIH HADITS

  • Orang yang teringat bahwa dia sedang junub ketika sudah di masjid, maka baginya tidak perlu bertayammum dulu di masjid (dengan maksud agar keluar masjid dalam keadaan suci dengan dalil orang junub tidak boleh berada dalam masjid), tetapi cukuplah ia keluar seperti keadaan sebelumnya (dalam keadaan junub) untuk mandi.
  • Nabi terbiasa meluruskan dulu shaf sebelum mulai takbir untuk shalat.
  • Bolehnya jeda iqomah yang lama antara iqomah dan masuk umtuk shalat.
  • Tidak apa-apa berada didalam masjid dikarenakan lupa.

Termasuk Dosa Besar Bila Tidak Menjaga Kesucian dari Kencing (Bagian 2)

dosabesartidakmenjagakesucian
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ قَالَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحَائِطٍ مِنْ حِيطَانِ الْمَدِينَةِ أَوْ مَكَّةَ فَسَمِعَ صَوْتَ إِنْسَانَيْنِ يُعَذَّبَانِ فِي قُبُورِهِمَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ ثُمَّ قَالَ بَلَى كَانَ أَحَدُهُمَا لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ وَكَانَ الْآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ ثُمَّ دَعَا بِجَرِيدَةٍ فَكَسَرَهَا كِسْرَتَيْنِ فَوَضَعَ عَلَى كُلِّ قَبْرٍ مِنْهُمَا كِسْرَةً فَقِيلَ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ فَعَلْتَ هَذَا قَالَ لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ تَيْبَسَا أَوْ إِلَى أَنْ يَيْبَسَا.

Telah menceritakan kepada kami ‘Utsman berkata, telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Mujahid dari Ibnu ‘Abbas berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati perkebunan penduduk Madinah atau Makkah, lalu beliau mendengar suara dua orang yang sedang di siksa dalam kumur mereka. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun berkata: “Keduanya sedang disiksa, dan tidaklah keduanya disiksa disebabkan dosa besar.” Lalu beliau menerangkan: “Yang satu disiksa karena tidak bersuci setelah kencing, sementara yang satunya lagi disiksa karena suka mengadu domba.” Beliau kemudian minta diambilkan sebatang dahan kurma yang masih basah, beliau lalu membelah menjadi dua bagian, kemudian beliau menancapkan setiap bagian pada dua kuburan tersebut. Maka beliau pun ditanya, “Kenapa Tuan melakukan ini?” Beliau menjawab: “Mudah-mudahan siksanya diringankan selama dahan itu masih basah.”

(Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari bissyarhi Shahih Al-Bukhari, Jilid I, hadits no.199. Kaira: Penerbit Darul Hadits, 2004. Hal. 380)


 

FAIDAH HADITS

  • Sesuatu dikatakan dosa besar, karena ada dua aspek: pertama, karena ada had, dan kedua, karena ada ancaman yang keras.
  • Sejatinya tidak ada dosa yang kecil, jika dilihat kepada siapa sebenarnya dia berbuat dosa. Dia berbuat dosa kepada Dzat yang sangat maha menyayangi dan mengasihinya, jadi pada hakikatnya tidak ada dosa kecil.
  • Kalaulah kencing tidak termasuk dosa besar, dikarenakan tidak adanya had (hukuman), maka konsekuensinya mencaci orang tua dan bersaksi palsu bukan merupakan dosa besar pula, padahal bersamaan dengan hal ini Nabi saw menganggap dan memperingatkan bahwa keduanya termasuk dosa yang paling besar, walaupun tidak ada had.
  • Orang yang meninggalkan dosa besar maka Allah menjanjikan ampunan baginya.
  • Maksud siksa kubur yaitu siksaan yang terjadi di alam kubur , bukan dikuburan , sedangkan alam kubur adalah ghaib.
  • Mesti berhati-hati terhadap dosa karena walaupun kecil tetap akan menimbulkan siksa yang besar, seperti yang kencing sembarang diancam dengan siksaan dialam kubur.
  • Membasahi kuburan tidak akan mengakibatkan diringankannya orang yang disiksa di alam kubur.
  • Mufrod boleh di idlofahkan kepada mutsanna, begitu juga jama’ tapi yang lebih baik jama’ di idlofahkan kepada mutsanna.
  • Pada asalnya mengembalikan dlomir itu kepada yang telah disebutkan tapi pada suatu kondisi boleh dikembalikan kepada yang tidak disebutkan,dikarenakan ada dalil.

Termasuk Dosa Besar Bila Tidak Menjaga Kesucian dari Kencing (Bagian 1)

dosabesartidakmenjagakesucian

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ قَالَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحَائِطٍ مِنْ حِيطَانِ الْمَدِينَةِ أَوْ مَكَّةَ فَسَمِعَ صَوْتَ إِنْسَانَيْنِ يُعَذَّبَانِ فِي قُبُورِهِمَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ ثُمَّ قَالَ بَلَى كَانَ أَحَدُهُمَا لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ وَكَانَ الْآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ ثُمَّ دَعَا بِجَرِيدَةٍ فَكَسَرَهَا كِسْرَتَيْنِ فَوَضَعَ عَلَى كُلِّ قَبْرٍ مِنْهُمَا كِسْرَةً فَقِيلَ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ فَعَلْتَ هَذَا قَالَ لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ تَيْبَسَا أَوْ إِلَى أَنْ يَيْبَسَا.

Telah menceritakan kepada kami ‘Utsman berkata, telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Mujahid dari Ibnu ‘Abbas berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati perkebunan penduduk Madinah atau Makkah, lalu beliau mendengar suara dua orang yang sedang di siksa dalam kumur mereka. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun berkata: “Keduanya sedang disiksa, dan tidaklah keduanya disiksa disebabkan dosa besar.” Lalu beliau menerangkan: “Yang satu disiksa karena tidak bersuci setelah kencing, sementara yang satunya lagi disiksa karena suka mengadu domba.” Beliau kemudian minta diambilkan sebatang dahan kurma yang masih basah, beliau lalu membelah menjadi dua bagian, kemudian beliau menancapkan setiap bagian pada dua kuburan tersebut. Maka beliau pun ditanya, “Kenapa Tuan melakukan ini?” Beliau menjawab: “Mudah-mudahan siksanya diringankan selama dahan itu masih basah.”

(Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari bissyarhi Shahih Al-Bukhari, Jilid I, hadits no.199. Kaira: Penerbit Darul Hadits, 2004. Hal. 379)


FAIDAH HADITS

  • Tidak ada kalimat yang salah, namun yang ada adalah kalimat yang salah menempatkan (salah merenahkeun).
  • Segala sesuatu tidak ada yang salah, namun hanyasanya terkadang salah dalam menempatkannya saja (salah tina merenahkeunnana).
  • Pada dasarnya manusia adalah plagiator (penjiplak), namun plagiator yang tercela dan mesti malu adalah dikarenakan dia tidak meminta izin dan tidak jujur.
  • Namimah secara bahasa menukil perkataan orang lain, tidak berkaitan dengan baik atau buruknya perkatan yang ditukilnya atau memadlorotkan orang lain atau tidak. Sedangkan menurut istilah Namimah adalah menukil perkataan orang lain agar bisa mengadukannya dengan orang lain (mengadu domba)
  • Perbedaan matan hadits adakalanya bukan bertentangan, tapi lebih kepada periwayatan secara makna. Maka bisa jadi matan ini sebab sedangkan matan lainnya akibat.
  • Boleh menunda penjelasan ketika dirasa kurang tepat dan akan membingungkan bila disampaikan dan dibahas pada waktu itu.
  • Mesti menyanggah orang lain apabila pendapatnya salah tapi harus dengan cara yang bijak.
  • Dosa kecil bila dilakukan secara terus-menerus maka dosanya akan menjadi besar .
  • Perkataan itu harus berdasarkan kepada maksud orang yang mengatakannya.
  • Menetapkan sesuatu harus dengan alasan yang kuat.
  • Penyampaian akan menjadi sangat berobot apabila dipersiapkan dengan matang.
  • Membaca mesti dengan akal bukan sekedar penglihatan.
  • Fahamnya ulama salaf kepada generasi berikutnya.
  • Tidak menjaga diri dari najis adalah termasuk berdosa.
  • Manusia itu berbicara bukan bersuara, karena apabila ada orang yang berbicara tapi tidak dapat dimengerti ucapannya maka dia itu bersuara.
  • Dalam menyimpulkan sesuatu mesti melihat kembali kepada judul agar kesimpulannya tidak keluar jalur dan tidak ngawur.
  • Dosa besar itu tidak ditentukan dengan adanya had (hukuman) tapi dengan ancaman yang keras.
  • Referensi seseorang harus sebanyak mungkin, agar ketika memutuskan dibarengi dengan hati yang mantap.
  • Ketika menceritakan seseorang itu perlu dengan menyebut namanya, maka sebutkanlah agar tidak terjadi prasangka buruk.
  • Syafaat bukan hanya terjadi pada hari penghisaban tapi bisa juga sekarang, seperti Nabi memberi syafaat kepada orang yang disiksa dialam kubur.

Menyiram Air ke Atas Air Kencing Di Dalam Mesjid (Bagian ke 2)

menyiramkencingdimasjid
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي الْمَسْجِدِ فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ فَقَالَ لَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud bahwa Abu Hurairah berkata, “Seorang ‘Arab badui berdiri dan kencing di Masjid, lalu orang-orang ingin mengusirnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda kepada mereka: “Biarkanlah dia dan siramlah bekas kencingnya dengan setimba air, atau dengan seember air, sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus untuk membuat kesulitan.”

(Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari bissyarhi Shahih Al-Bukhari, Jilid I, hadits no.199. Kaira: Penerbit Darul Hadits, 2004. Hal. 386)


FAIDAH HADITS

  • Para shahabat mencegah/ melarang arab gunung (badui) yang kencing di sudut mesjid dengan perkataannya ” مَهْ مَهْ مَهْ”.
  • Pembahasan tentang istilah itu harus diutamakan dan dinomorsatukan untuk menyamakan persepsi, karena jika berbeda persepsi maka akan timbul kesulitan dikarenakan beda sudut pandang dalam memahami istilah itu.
  • Riwayat (penyampaian) dengan metoda “bi lafzhi” (sesuai dengan redaksi dari Nabi) itu menunjukan kehati-hatian atau pemahamannya hanya sebatas itu. Sedangkan riwayat denganmetoda “bilma’na” menunjukan dia itu memang faham dan mengerti atau dikhawatirkan ada banyak pertanyaan jika tidak disampaikan secara makna.
  • Modal untuk menjadi seorang da’i (pendakwah) adalah “yassiru wala tu’assiru”, harus bisa memudahkan jangan menyulitkan.
  • Permulaan dalam mengajak seseorang untuk ta’at kepada agama Islam, hendaklah ditanamkan terlebih dahulu keyakinan kepada Allah,pentingnya ibadah kepada Allah, kehati-hatian dalam beribadah kepada Allah, merubah dan meluruskan mindset serta ,menanamkan keyakinan terhadap hari akhir.
  • Allah tidak butuh harta, zakat, shalat atau ibadah kamu, yang Allah ingin lihat adalah keta’atan kita kepada-Nya.
  • Dulu orang sulit menerima Islam sebagai agama, namun sekarang orang sulit menjalankan Islam yang sebenarnya “harus bagaimana menjalankan Islam yang sebenarnya?”
  • Ketika satu masalah selesai, maka akan timbul masalah yang baru.
  • Ke-fathonahan- (kecerdasan) itu adalah Kecepatan seseorang dalam memutuskan sesuai dengan situasi dan kondisi.
  • Berbeda-bedanya redaksi hadits, bisa jadi untuk menguatkan yang lain.
  • Kita dengan Nabi sama dalam hal menerangkan berita besarnya, bedanya kalau Nabi dari Jibril sedangkan kita dari Rasul.
  • Kritis dalam menghadapi masalah adalah sebuah kebijakan.
  • Bolehnya berpegang kepada yang umum sampai yang khusus jelas. Mesti memegang atau menjalankan kepada keumuman lafadz apabila lafadz khusus masih diragukan.
  • Menjaga diri dari sesuatu yang najis telah mengakar dalam diri para sahabat, oleh karena itu para sahabat spontan hendak melarang dan mencegah arab gunung yang kencing disudut mesjid.
  • Telah mendarah daging dalam diri sahabat agar senantiasa ber-amar ma’ruf dan nahyi ‘anil munkar (memerintah yang baik dan melarang dalam perkara yng mungkar).
  • Ketika berkumpul dua madlorot yang tidak bisa dihindari, maka cegahlah madlorot yang lebih besar akibatnya.
  • Fathonah (Cerdas) adalah Kecepatan dalam berfikir ketika menghadapi situasi dan kondisi serta kecepatan dalam mengambil keputusan. Inilah yang paling sulit.